Sebuah Ketulusan yang Sebenarnya

Pada zaman nabi, di sebuah sudut Kota Madinah ada seorang pengemis buta yang setiap harinya selalu berkata kepada setiap orang yang mendekatinya, “Wahai saudaraku, jangan pernah kau dekati Muhammad. Dia itu orang jahat, pembohong dan tukang sihir. Jika kalian mendekatinya, maka kalian akan dipengaruhinya.

    Tiada hal lain yang dilakukan si pengemis kecuali menengadahkan tangan dan meneriakkan kata- kata itu berulang kali. Namun demikian, setiap hari selalu ada seorang pria yang mendatangi pengemis itu dengan membawakan makanan, dan tanpa berucap sepatah katapun, pria itu selalu menyuapkan makanan yang ia bawa dengan penuh kasih sayang kepada si pengemis. Pengemis pun berkata kepada pria itu “Wahai sahabatku, jangan pernah kau dekati Muhammad, dia itu pembohong dan orang jahat..!!

    Suatu ketika…  Pria yang biasanya datang menyuapinya makan itu tidak lagi datang kepadanya. Pengemis buta itu semakin hari semakin lapar, dan bertanya- tanya dalam dirinya, “Apa yang terjadi dengan pria itu..?” Sampai suatu hari ada seorang pria yang datang memberinya makan. Namun saat ia menyuapi sang pengemis, ia justru marah sambil menghardik : “Siapa kamu..? Engkau bukan orang yang biasa mendatangiku”. “Aku adalah orang yang biasa”, kata orang itu. Pengemis pun menjawab, “Tidak mungkin, kamu pasti bohong”.

    Apabila Ia datang kepadaku, tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasanya datang selalu mengusap rambutku terlebih dahulu. Selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut, sehingga tak sulit mulut ini mengunyah. Mendengar jawaban dari pengemis buta tersebut, pria tadi tidak sanggup menahan air matanya. Sambil menangis Ia berkata, “Aku memang bukan orang yang biasa datang kepadamu. Aku adalah sahabatnya. Namaku Abu Bakar. Orang berhati mulia yang biasa menyuapimu adalah Rosulullah Muhammad saw.

    Pengemis buta itu langsung terkejut. Tubuhnya bergetar dan tidak ada kata- kata yang keluar dari mulutnya. Air matanya kemudian mengalir begitu deras di pipi, seolah tak terbendung mengenang manusia berhati mulia, Muhammad saw. Pada saat itu juga si pengemis itu masuk islam. Subhanallah…

----------
Teman… kerasnya batu memang bisa dihancurkan dengan lembutnya air. Kerasnya hati manusia pun dapat diluluhkan dengan ketulusan dan kasih sayang. Semua hanya butuh 1 kata yang bernama “kesabaran”. Nilai suatu kesabaran yang sebenarnya tak terbatas, hanya kita saja yang kadang selalu “membatasinya”. Sehingga tak jarang banyak orang yang berrkata : “Oh, kesabaranku sudah habis”..!! padahal kesabaran itu tak terbatas, sebagaimana yang Rosulullah SAW ajarkan.

Life simply, Love generously, Care deeply, and Speak kindly.

PRODUK GELANG KESEHATAN HERBAL - KLIK DISINI