Berharap Balasan Sedekah Boleh kang..?
Fenomena Kehendak
Jika orang lain tak mau berubah sebagaimana yang kamu kehendaki, dan kamu pun enggan berubah sebagaimana yang orang itu kehendaki, maka ubahlah dirimu sebagaimana yang Allah kehendaki.
Utumakan kehendak-Nya, dan nomor duakan kehendakmu dan kehendak siapapun. Kamu hanya selamat bila melakukan kehendak diri dan manusia yang selaras dengan kehendak-Nya.
Kalau kamu memang yakin sedang memperjuangkan kehendak-Nya, maka kamu ndak bakal mudah marah dan kecewa bila belum mencapai apa yang kamu kehendaki itu. Bersabarlah, sebab sabar itu pun bagian dari kehendak-Nya.
Bersabarlah, segala sesuatu itu akan indah pada waktunya, dan waktunya adalah "sekarang". Sebab sabar itu indah.
Kelembutan Hati Rosulullah SAW
sebagaimana disebutkan dalam Shahih Al Bukhari ketika seorang pemuda yahudi datang ke rumah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan hendak tinggal bersama beliau kemudian diberinya izin sehingga ia tinggal di rumah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dalam kesehariannya ia hidup dan makan serta minum bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,
namun suatu waktu pemuda tersebut pergi dari rumah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan setelah ditanya ternyata pemuda itu sedang sakit dan pulang ke rumahnya.
Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam datang ke rumahnya, dan mendapatinya dalam keadaan sakaratul maut, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata : “Ucapkanlah لاإله إلا الله محمد رسول الله “, maka pemuda tersebut memandang ayahnya yang juga seorang yahudi, karena melihat kebaikan dan kelembutan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ayah pemuda itu berkata : “Taatilah Abu Al Qasim (Nabi Muhammad)”,
lantas pemuda itu pun mengucapkan لا إله إلا الله محمد رسول الله kemudian meninggal. Ketika itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam merasa sangat gembira dan keluar dari rumah itu dengan wajah yang terang benderang, maka salah seorang sahabat bertanya : “Wahai Rasulullah, apa yang telah membuatmu sangat gembira?”, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab :
“ Alhamdulillah pemuda itu telah mendapatkan hidayah dari Allah subhanahu wata’ala”. Sungguh mulia budi pekerti sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.
Rahasia Kayu Kokka/ Kauka dan Nabi yang Menggunakannya
Kayu Kokka Asli, Sejarah Kayu Kokka, Kayu Kokka Nabi Nuh
Berperasangka Baik kepada Allah
Kekuatan Tutur Kata Positif
Perjalanan Hidup yang Tidak Mudah
Pelajaran Berharga dari si Penjual Roti
Suatu hari tampak seorang pemuda tergesa- gesa memasuki sebuah warung makan karena kelaparan sejak pagi belum sarapan. Setelah memesan makanan, seorang anak penjual roti menghampirinya: “Om, beli kue dong Om. Masih hangat dan rasanya enak..!” ^__^
Sambil terus mengikuti Pemuda itu si Anak berkata : “Kuenya bisa dibuat oleh- oleh pulang lho, Om”. Dompet yang belum sempat dimasukkan ke kantong pun akhirnya dibuka kembali. Dan dikeluarkannya selembar uang 5 ribuan kemudian dikasihkan ke penjual roti. “Maaf, saya tidak beli kue. Uang ini anggap saja sebagai sedekah dari saya, Dik”.
Dengan senang hati diterimanya uang itu. Lalu ia bergegas keluar restoran, kemudian memberikan uang pemberian itu kepada Pengemis di seberang jalan. Si Pemuda yang memperhatikan dengan seksama terkejut..!! Ia langsung menegur: “Hai adik kecil, kenapa uangnya diberikan ke orang lain..? Kamu berjualan kan untuk mendapatkan uang. Kenapa setelah kamu mendapat uang malah diberikan ke pengemis itu..?” “Maaf, Om…”. Jangan marah ya..? Ibu saya mengajarkan kepada saya untuk mendapatkan uang dengan cara kerja keras, bukan dengan mengemis. Kue- kue ini dibuat oleh Ibu saya sendiri dan Ibu saya pasti kecewa dan sedih, jika saya mendapatkan uang bukan karena jerih payah saya dalam berjualan. Tadi Om bilang “uang sedekah”, jadi ya saya berikan ke pengemis itu.
Si Pemuda akhirnya merasa takjub dan menganggukkan kepala tanda mengerti, “MasyaAllah… Dik, berapa banyak roti yang kamu bawa..? Saya borong semua untuk oleh- oleh”. Si anak pun lansung menghitung jumlah dagangannya dengan gembira. Sambil menyerahkan uang, si Pemuda berkata : “Terimakasih banyak ya Dik, atas pelajaran hari ini. Tolong sampaikan salam saya untuk Ibu kamu di rumah.
Walaupun si Anak tidak mengerti tentang pelajaran apa yang dikatakan pemuda itu, dengan gembira diterimanya uang itu sambil berkata : “Makasih banyak ya Om. Ibu saya pasti sangat senang kerena jerih payahnya dihargai, dan uang ini pasti sangat bermanfaat bagi kehidupan kami”.
----------
Ya, itulah pelajaran yang bisa kita ambil. Seorang anak dengan kepolosan hatinya menyampaikan Apa yang ia inginkan. Kadang hikmah- hikmah kehidupan tidak dapat kita dapatkan di bangku sekolah, bahkan di bangku kuliah sekalipun. Semuanya justru banyak kita dapatkan dari kehidupan sehari- hari. Seorang anak yang ingin “DIHARGAI”, bukannya ingin “DIKASIHANI”. Karena pasti sangat berbeda antara’menghargai’ dengan ‘mengasihani’. Kalau Engkau ingin dikasihi, maka berikanlah kasih sejati. Dan bukan rasa kasihan, sebab beda sekali antara mengasihi dan mengasihani.
Berperasangka Baik kepada Allah
Assalamualaikum wr wb, para sahabat.
Alhamdulillah…, setelah sekian lama tidak menulis. Pada kesempatan kali ini kami masih diberi kesempatan untuk berbagi dengan para sahabat semua. Kehidupan manusia memang tak luput dari berbagai masalah yang telah dihadapi, sedang dihadapi, maupun yang akan dihadapi. Dan yakinlah bahwa kesemua masalah itulah yang akan mengubah kita menjadi manusia- manusia yang semakin tangguh. Karena kehidupan adalah proses yang Tuhan berikan untuk menguah kita menjadi insan yang lebih baik.
Beberapa waktu yang lalu, ada sahabat kami yang sedang terlillit masalah yang sangat panjang. Sang suami yang sedang menikmati pekerjaan barunya tba- tiba saja dipecat. Padahal hanya dari pekerjaan itulah merekan menggantungkan hidupnya. Ia pun mempunyai tanggungan istri dan anak- anak yang harus dihidupi setiap harinya. Karena persediaan keuangan sudah tak cukup, ia terpaksa meminjam uang kemana- mana dan akibatnya terikat banyak hutang. Ia merasa benar- benar kebingungan, akhirnya keadaan inilah yang membuat ia “Berperasangka Baik kepada Tuhan”. Ia mulai rajin sholat Tahajud, Dhuha, bersedekah, membersihkan masjid- masjid setiap hari, dll.
Alhamdulillah… Sebulan kemudian datang seseorang yang sedang membutuhkan seorang pegawai. Tanpa berpikir panjang, ia pun menerima permohonan baik dari orang tersebut. “Maka nikmat Tuhan manakah yang Engkau dustakan..?” Kekuatan berbaik sangka saat masalah menimpa, akan mengantarkan Kita kepada harapan luar biasa yang tak terduga. Bahkan Rosulullah pun bersabda: “Aku bersama sangkaan hambaKu kepadaKu”. Jadi jika kita selalu berperasagka baik kepada Allah, maka itulah yang akan terjadi. Karena manusia adalah makhluk yang sangat lemah, sehingga tentu ia harus mempunyai sandaran yang KUAT. Dengan adanya perasaan unruk “berperasangka baik kepada Allah”, tentu kita akan dapat menjalani kehidupan ini dengan mudah, karena setiap masalah pasti ada hikmah.
Untuk apa berpikiran negatif, jika kita mampu dan begitu mudah berperasangka positif. Untuk apa berputus asa jika kita bisa menguatkan asa..? Dan untuk apa frustasi, jika dibalik frustasi itu ada banyak nilai prestasi. So, berpikirlah positif. Karena di balik masalah pasti ada peluang. Dan semakin BESAR masalah, semakin BESAR pula peluangnya. Ibarat langit malam yang semakin gelap, maka akan semakin banyak bintang yang terlihat. Jadi jika kita ingin meraih banyak bintang, maka jangan takut menghadapi kegelapan malam (masalah).
Semakin sulit suatu kondisi, maka semakin dekat dengan kemudahan. Semakin kita dekat dengan yang maha BESAR, maka semua masalah yang kita hadapi tentu terasa sangat kecil. InsyaAllah… Jangan pernah katakan: “Wahai Allah, masalahku sangat besar. Tapi katakanlah: “Wahai masalah… Allah itu maha BESAR. Maka percayalah… nyali dari para masalah itupun akan langsung menciut lalu akan mudah kita selesaikan.
Menenggelamkan Perasaan Sakit Hati
Setiap manusia pasti pernah mengalami perasaan ini. Ia memang menyakitkan, menyedihkan , dan bahkan bisa membuat kita jatuh dalam keterpurukan yang mendalam. Saat ada perkataan yang kurang berkenan, dilanda perasaan cemburu, atau mendapatkan perlakukan yang kasar, kadang “perasaan ini” langsung muncul dan membawa kita dalam kesedihan.
Kita semua pernah mengalaminya. Dan hampir semua orang akan hanyut oleh perasaan sakit hati. Saya ingin berbagi pengalaman dengan Anda. Beberapa hari yang lalu, saya mendapat telp dari teman saya. Ia menelpon saya dengan nada yang lirih dan terdengar baru saja melampiaskan air matanya yang bercucuran. Dia bilang jika ia baru saja dihianati dan disakiti oleh kekasihnya yang sangat ia cintai. Astagfirullah haladzim…
Bisakah Anda membayangkannya..? Seorang perempuan yang sudah dengan tulus menyayangi dan mencintai seseorang. Namun ia tidak mendapatkan perlakuan yang semestinya, ia terus dibohongi dengan buaian perkataan indah yang hanya dalam angan- angan. MasyaAllah… Saya turut merasakan apa yang ia alami. Perasaan kasih sayang dan kepercayaan yang ia berikan, seakan- akan berbalas dengan sikap yang sangat kejam. Saya memberikan sedikit harapan dan motivasi kepadanya, agar tidak terlalu memikirkan Apa yang telah ia alami. Dan tidak selamanya sakit hati diungkapkan dengan kesedihan dan tetesan air mata, saatnya kita menenggelamkan perasaan itu dengan adanya harapan dan semangat baru yang jauh lebih besar.
Namun pada waktu itu pikirannya masih kacau. Ia masih menangis dan menyesali apa yang telah ia lakukan selama ini. Saya mengatakan, “jika kamu ingin menyesali perbuatan kamu, makan sesalilah… Namunmjangan sampai kamu berlarut larut dalam penyesalan yang mendalam. Saya yakin, bahwa perasaan cintamu kepadanya belum seberapa dibandingkan dengan kecintaan kamu ke sang Maha Pencipta”. Dengan sikap dan perasaannya yang masih sedikit kacau, saya menyarankan dia agar menenangkan diri dengan lebih mendekatkan diri kepada Allah.
Seperti firmanNya dalam QS Ar Rad: 28: “Hati orang- orang yang beriman menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat (dzikir) kepada Allah lah hati menjadi tentram”. Dia pun mau melaksanakan shalat Tahajud. Berserah diri dan pasrah dengan semua yang telah ia alami. Ia mencurahkan air matanya untuk menggapai pertolongan dan kekuatan kepada Allah swt. Alhamdulillah… Setelah beberapa hari kemudian, ia kembali menelpon saya dengan nada yang jauh lebih bersemangat dan sudah bisa tersenyum daripada hari- hari sebelumnya. Ia mengatakan bahwa ia menjadi lebih TEGAR setelah mengalami peristiwa kemarin. Alhamdulillah hirobbil alamin.
Itulah perempuan… perasaan mereka begitu lembut dan sangat peka. Sehingga mudah terluka apabila mendapatkan sedikit goresan kata- kata ataupun perlakuan yang kurang berkenan di hati. Mereka kadang begitu lemah, sehingga cenderung melampiaskan kesedihan dengan curhatan kata- kata dan tetesan air mata. Dan kadang hati mereka hampa dan kesepian, sehingga membutuhkan seseorang yang senantiasa memberikan perhatian yang lebih untuk mereka. Tidak heran, jika banyak perempuan yang mempunyai pasangan atau kekasih untuk menghiasi masa remaja mereka.
Sakit hati hanya akan memperpuruk diri kita sendiri. Dengan selalu mendekatkan diri kepada Allah, memperbanyak dzikir, ikhlas, dan selalu bersabar dalam mengahadapi cobaan. InsyaAllah semua masalah bisa diatasi. Perasaan sakit hati pun dapat ditenggelamkan dan masalah pun akhirnya terselesaikan. Maka berusahalah agar kita selalu mempunyai keikhlasan dalam memaafkan kesalahan orang lain. Semua yang menimpa kita adalah atas kehendak Allah taala. Jadi tidak ada yang perlu disalahkan.
Memaafkan memang tidak bisa mengubah apapun di masa lalu. Namun ia dapat memperindah hari esok dan menceriakan hari ini. Maafkanlah masa lalu, ikhtiar lah untuk masa depan, dan syukurilah SAAT INI. Berbagai masalah itulah yang senantiasa membuat kita berTAHAN dan lebih berTUHAN. Jangan membuat diri Anda terpuruk dalm kesedihan yang mendalam. Saatnya kita untuk bangkit dan menatap indahnya masa depan goresan semangat yang senantiasa menyelimuti kita dimanapun, kapanpun, dan dengan siapapun.
Semoga Anda dapat mengambil hikmah dari cerita ini. Kita tidak harus mengalaminya, tapi kita bisa “ikut merasakan” kesedihan yang dialami orang lain, sehingga kita pun dapat mengambil hikmah dari setiap peristiwa yang terjadi. Cobaan memang kadang dibungkus dalam “wadah” yang menyakitkan, namun sesungguhnya di dalamnya terdapat hikmah yang luar biasa. Dan setelah kita berhasil memahami hikmah di dalamnya, kita akan bertambah kuat dan lebih tegar dalam menghadapi cobaan berikutnya.
Mamahami Arti sebuah Cinta yang Sebenarnya

Berbagai buku ditulis untuk mengungkap dan memahami arti sebuah cinta, mulai dari yang berjudul: ‘Pacaran dalam Islam’, ‘Ya Allah Aku sedang Jatuh Cinta’, ‘Jatuh Cinta itu Indah’, ‘Eifel I am in Love’, dll. Yang semuanya dijelaskan dalam puluhan, bahkan ratusan lembar untaian kata- kata. MasyaAllah…
Padahal cinta itu begitu sederhana, ia hanya terbagi menjadi 2 belahan, yaitu cinta yang abadi (cinta kepada sang ilahi), dan cinta yang fana (cinta kepada sesama manusia). Cinta yang ABADI selalu diliputi oleh perasaan senang, tenang, dan nyaman, karena perasaan ini terhubung langsung dengan sang ilahi. Sedangkan cinta yang FANA diliputi oleh nafsu, perasaan gelisah, tidak tenang, dan kadang menyakitkan.
Banyak sahabat kita yang terpuruk dalam kesedihan yang mendalam karena cinta yang fana. Ia disakiti bahkan dikhianati oleh orang- orang yang sangat mereka cintai. Astagfirullah hal’adzim… Padahal, adanya cinta sebenarnya akan membuat kita bahagia, bukan membuat kita sengsara dan merana. Memang tidak mudah, bagi orang yang sudah terikat oleh cinta yang fana untuk bangkit kembali dari kesedihan, karena perasaannya masih memikirkan zat yang fana pula. Dengan terlalu menyandarkan hati kita pada zat yang lemah, maka kita pun akan tumbuh menjadi pribadi yang lemah pula.
Maka, mulai saat ini jadilah orang- orang yang tangguh. Yang tidak pernah bersedih dan menangis hanya karena sebuah cinta yang fana. Jangan sandarkan jiwa dan hati Anda yang suci pada cinta yang bisa menyakiti. Waktu masih panjang dan masih begitu banyak impian yang belum kita raih dalam hidup ini. Oleh sebab itu, kita membutuhkan kekuatan cinta yang luar biasa yaitu Cinta yang abadi, cinta kepada sang ilahi.
Silahkan Anda mencintai orang- orang yang Anda cintai, tapi cintailah mereka dengan cinta yang sewajarnya. Seandainya Anda ditinggalkan atau disakiti olehnya, maka Anda tidak terpuruk dalam kesedihan yang mendalam dan dapat langsung bangkit dari keterpurukan, karena masih mempunyai 1 cinta abadi yang hakiki, yaitu cinta kepada sang ilahi. Cinta yang tulus dan tak pernah menyakiti… Cinta yang memberi kekuatan dan menyejukkan hati… Cinta yang murni dan berasal dari cahaya ilahi.
Curahkan cinta Anda lebih kepada Allah ta’ala, karena inilah yang menjadi bukti ketulusan iman dan ketaqwaan kita kepadaNya. Bahkan rosulullah pun bersabda: “Barangsiapa memberi karena Allah, menolak karena Allah, mencintai karena Allah, membenci karena Allah, dan menikah karena Allah, maka sempurnalah imannya”. (HR. Abu Dawud).
Cinta yang fana belum tentu bisa membawa kita ke Surga.Namun cinta yang abadi dapat membawa kita ke Surga. Cintailah rosulullah, karena kelak orang- orang yang mencintai beliau akan dipertemukan dengan beliau di Surga. Hadis riwayat Anas bin Malik ra.: “Bahwa seorang Arab badui bertanya kepada Rasulullah saw : Kapankah kiamat itu tiba? Rasulullah menjawab: Apa yang telah kamu persiapkan untuk menghadapinya? Lelaki itu menjawab: “Aku Cinta Allah dan RasulNya”. Kemudian rasulullah bersabda: “Kamu akan bersama orang yang kamu cintai” (bersama dengan rosul di Surga). (Shahih Muslim No.4775). MasyaAllah…
Jika Anda terlalu mencintai dan mengejar Dunia, maka Anda tidak mungkin mendapatkan Akhirat. Namun jika Anda mencintai dan mengejar Akhirat, maka Anda pasti mendapatkan keduanya (Dunia dan Akhirat). Mengapa..? Karena Akhirat tidak hanya mengajarkan kita bagaimana cara untuk memasukinya, tapi juga mengajarkan bagaimana kita untuk menaklukkan dan meraih apa yang terbaik di Dunia ini.
Bagaimana dengan Anda…? Masihkah Anda mengalirkan air mata kesedihan hanya karena sebuah cinta yang fana..? Dan sudahkah Anda mencintai Allah dan Rosulullah dalam cinta yang abadi..? Semoga sepenggal tulisan ini, dapat membantu Anda untuk lebih memahami arti sebuah cinta yang sebenarnya. Membuat Anda menjadi orang- orang tangguh, yang selalu mencintai Allah dan Rosulullah dalam ikatan cinta yang abadi. Allahumma Amiin…
4 Hal yang Tidak Dapat Diraih Kembali
Saya punya sebuah cerita yg ingin saya curahkan kepada teman- teman sekalian. Cerita ini saya dapatkan dari Ayah saya beberapa hari lalu. Inilah ceritanya…
Ia kemudian duduk di sebuah kursi ruang tunggu sambil bersandar dan mulai membaca buku yang ia pegang. Di kursi sebelah, yang hanya dipisahkan oleh sebuah meja kecil yang diatasnya tersaji sebungkus biscuit, Duduklah seorang pria yang juga tengah asyik membaca majalah.
Ketika Ibu muda mengambil sepotong biscuit dari bungkusan yang terletak di atas meja, pria tersebut juga mengambil sepotong biskuit. Si Ibu muda mulai merasa terganggu dengan perbuatan pria tersebut, namun ia diam saja. Ia hanya bergumam: “ Huuhh..., menyebalkan..!! Ingin rasanya kutampar pria ini.
Kejadian pun terus berlanjut... setiap kali Ibu muda mengambil sepotong biscuit, pria tersebut juga melakukan hal yang sama, sambil tersenyum manis kepada Ibu muda tersebut. Namun perbuatan pria tersebut justru membuat geram si Ibu muda. Ia benar- benar merasa terganggu dan emosi. Ketika biscuit tinggal tersisa 1 potong...
Si Ibu muda bergumam: “Coba saya ingin lihat Apa yang Ia lakukan..?” Kemudian si pria membelah biscuit tersebut, ia mengambil separuh dan mempersilahkan Ibu muda untuk menikmati separuhnya lagi. “Benar- benar keterlaluan..!!” Kekesalan si Ibu muda ini akhirnya memuncak. Ia segera mengemas barang- barangnya dan meninggalkan tempat duduk tersebut dan pindah ke ruang keberangkatan (Boarding room).
Ketika Ia telah duduk di dalam pesawat, ia membuka tas jinjingnya. Kemudian ia begitu terkejut..!! Ternyata biscuit yang ia beli masih utuh di dalam tasnya. Ia sangat menyesal dan benar- benar merasa malu, Ia merasa bersalah... Ia mengira bahwa biscuit yang ia makan tadi adalah miliknya. Ternyata bukan...
Pria tadi rela memberikan dan membagi biscuit antara dirinya dengan si Ibu muda tanpa merasa marah, terganggu, ataupun merasa rugi sedikitpun. Sementara si Ibu muda merasakan sebaliknya. Ia justru merasa bahwa biscuit tersebut adalah miliknya yang telah diserobot oleh pria tersebut. Dan menyangka betapa kurang ajarnya pria tersebut kepada dirinya. Masya Allah.....
Sahabatku, Apa hikmah yang bisa Anda ambil dari cerita ini..???
Sadarkah Anda, bahwa ada 4 hal yang tidak dapat ditarik kembali, yaitu:
1. “Kata- kata yang telah diucapkan”. Ia ibarat batu yang telah dilempar. Begitu tajam dan berbahaya, sehingga dapat menyakiti siapa saja.
2. “Kesempatan, setelah berlalu”. Kita telah kehilangan 1 moment yang sangat berharga, namun kita tidak menyadarinya dan membiarkannya berlalu begitu saja.
3. “Waktu, setelah beranjak pergi”. Imam Syafii bahkan mengatakan: “Sesuatu yang paling jauh adalah waktu”, karena ia tidak dapat diulang dan dicari lagi.
4. “Umur, yang semakin habis”. Oleh sebab itu. Pergunakanlah sisa dari umur kita untuk melakukan Apa yang terbaik, tidak hanya untuk di Dunia ini. Namin juga untuk bekal kita di kehidupan berikutnya.
Bagaimana dengan Anda..?? Masihkah Anda meremehkan orang disekiar Anda..?? Masihkah Anda sering dikuasai oleh amarah dan emosi yang berlebihan..??
Semoga artikel ini dapat membuka pandangan kita lebih luas. Membuat kita menjadi orang- orang yang senantiasa menjalani kehidupan ini dalam bingkai kesabaran dan ketaqwaan kepada Allah swt. Hidup tidak selalu mudah, hidup tidak selalu menyenangkan, bahkan kadang hidup ini sangat keras. Namun justru disitulah letak kebahagian yang sesungguhnya. Banyaknya permasalahan dalam hidup ini akan memberikan kita kesempatan untuk menjadi manusia yang ‘LEBIH’. Lebih baik, lebih kuat, dan lebih bertaqwa kepadaNya. Amiin..
Menjadi orang yang Bermanfaat dan Penyejuk Hati bagi Orang Lain
Kembali berusaha memahami arti kehidupan. Memandang Dunia dari sisi yang berbeda untuk menguak apa yang masih tersembunyi. Mengubah pola pikir, untuk menjadikan setiap cobaan sebagai mutiara kehidupan. Menaklukkan cobaan tersebut, dan membuka tabir hikmah di dalamnya. Meracik dalam bentuk ilmu, dan menyampaikannya kepada teman- teman tercinta.
Saya punya sebuah cerita yg ingin saya curahkan kepada teman- teman sekalian. Saya punya seorang sahabat, sebut saja namanya Pak Rahmat. Beliau adalah seorang mahasiswa S3 UIN (Universitas Islam Negeri) di Yogyakarta, seorang calon Doktor jurusan Pengembangan Studi Islam. Suatu hari, 2 teman saya bersilaturahmi ke rumah beliau. Mereka bertanya kepada Pak Rahmat.
“Pak, Apa yang membuat Anda meneruskan pendidikan sampai ke S3.? Apakah karena perintah Allah, yaitu untuk menuntut ilmu setinggi- tingginya.?” Beliau menjawab: Tidak. Teman saya bertanya lagi, “Lantas apakah karena perintah Allah, untuk memerangi kebodohan.?” Beliau menjawab: Tidak juga. Teman saya bertanya, “Lantas apa yg membuat Anda meneruskan pendidikan sampai ke S3.?”
Beliau menjawab: “Saya hanya ingin menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain”. Saya terdiam sejenak… saat mendengar jawaban tersebut, saya seperti mendapat tamparan keras, Plaak..!!
MasyaAllah… Saya kagum dengan jawaban beliau. Perlu Anda ketahui, bahwa Pak Rahmat adalah seseorang yang buta. Kemanapun ia pergi, ia selalu membawa tongkat di tangannya. Di tengah keterbatasan fisiknya, dia tidak ingin hidupnya menjadi hampa dan sia- sia. Namun, keterbatasan fisik yg ia miliki justru menjadi pemicu semangatnya untuk selalu bangkit menjalani kehidupan.
Berkali- kali orang tuanya menyuruh beliau untuk diam saja di rumah, tapi beliau menolaknya. Beliau ingin mematahkan persepsi orang- orang yg mengatakan bahwa orang cacat adalah orang yg tidak berguna. Jadi beliau bangkit dan ingin menjadi orang yang bermanfaat dengan mengamalkan ilmunya kepada orang lain. MasyaAllah…
Sungguh betapa mulianya seorang mukmin yang senantiasa menjaga ibadah dan akhlaknya, senantiasa menjaga keimanan dan ketaqwaannya kepada Allah. Sama sekali tidak ada keluh kesah dan air mata kesedihan. Yang tatkala cobaan dan ujian menimpa, hanya kesabaran dan keikhlasan yang ia tunjukkan. Di saat gemerlap dunia kian dahsyat menerpa, ia tetap teguh mempertahankan keimanannya. Ia bisa menjadi penyejuk hati bagi orang-orang di sekitarnya.
Bagaimana dengan kita..? Sebagai seorang manusia yang dianugrahi kesempurnaan fisik, Apakah kita dapat bermanfaat dan menjadi Penyejuk Hati bagi orang lain.? Selama ini, hal trbesar apakah yang sudah Anda lakukan..?
Ini tentu menjadi pelajaran bagi kita. Di tengah hiruk pikuk kehidupan ini, jadilah seseorang yang bermanfaat. Seseorang yg dapat memberikan suntikan semangat, saat orang- orang disekitarnya sedang kelelahan. Dan seseorang yang bisa memberikan oase kesejukan hati di tengah hiruk pikuk kehidupan Dunia.
Jadikanlah deburan cobaan yang menerjang dan keterbatasan yang kita miutiara kehidupan. Karena dengan cobaan- cobaan itulah kita akan terlahir menjadi sosok manusia baru yang semakin tangguh. Sosok manusia yang menjadikan cobaan Dunia ini hanya sebagai permainan belaka, karena ia tahu. Bahwa cobaan yg sebenarnya baru akan dihadapi pada hari Akhir.
Yaitu saat kita diberi pertanyaan oleh malaikat di alam kubur. Saat keringat kita bercucuran di Padang Mahsyar. Saat kita akan menyeberangi jauhnya Jembatan Shiratal Mustaqim. Dan saat kita akan dihadapkan pada 2 pilihan, yaitu Surga atau Neraka. Itulah cobaan terberat kita sesungguhnya, saat dimana kita akan berjuang sendiri- sendiri dan tidak bisa meminta pertolongan orang lain.
Semoga artikel ini dapat membuka pandangan kita lebih luas. Membuat kita menjadi orang- orang yang selalu bersyukur dan bermanfaat bagi orang lain. Serta dapat memberikan sedikit kesejukan hati kepada kita, sebagai bekal untuk menjalani hari demi hari di Dunia ini. Amiin…








